Cute Bow Tie Hearts Blinking Blue and Pink Pointer

Sabtu, 09 Juli 2011

Pengalaman Pahit di Kelas 9A


Berbagi kisah dan kasih bersama teman-teman adalah hal indah yang jarang kita temukan sekarang ini. dimana itu Sahabat Sejati? Apakah memang ada?
aku tidak akan pernah melupakan kisah pahitku selama SMP kelas tiga. Aku ditempatkan di kelas unggul. Kelas itu bernama Kelas 9A.
Aku tidak pernah menyangka bisa mendapatkan pengalaman yang menyedihkan sepanjang tahun 2008 ini. Aku berada diantara teman-teman yang tidak peduli dan jahat kepadaku.
Dibulan pertama aku disana, aku sudah mendapatkan musuh yang sangat membenciku. Memang bukan anggota dari kelas 9A tersebut. Namun salah seorang anggota geng nya berada di kelas 9A.
Mereka selalu menganggu dan menteror kehidupanku. Aku diledeki secara tidak langsung *menyindir* secara terus-terusan oleh mereka. Alasan mereka karena aku ini cupu dan semacamnya. Aku akui, aku memang cupu *pada saat itu* karena aku memang belum mengenal dunia luar selain pendidikanku. Aku hanya fokus pada pelajaran sekolahku dan bahasa inggris yang menjadi andalanku. Aku adalah siswa yang pendiam dan tidak banyak teman yang mengetahui tentang kehidupanku.
Aku berbuat seperti itu dikarenakan aku sudah minder dan tidak punya percaya diri dalam bergaul. Pengalaman pahit menimpa ketika aku duduk di kelas 2 SMP. Aku bertengkar dengan salah seorang anggota geng yang membenciku itu. Kebetulan dia itu anak anggota DPR. Teman-teman memanggilnya ^Sawir^. Hampir semua teman dikelasku tidak mau berurusan dengan dia dan anggota gengnya. Karena apa? Karena mereka adalah komplotan cewek yang tak punya hati. Terlalu kasar aku memanggilnya. Tapi itulah kenyataannya. Sampai sekarang, bahkan aku sudah di perguruan tinggi aku tidak pernah melupakan pengalaman pahitku itu.
Sejak saat itu aku jarang ngomong dan menutup diri dari pergaulan. Aku tidak bisa berbaur dengan teman yang seperti itu. Mereka sangat berbeda dengan ku. Mereka kaya. Sedangkan aku tidak. Mereka gaul. Sedangkan aku tidak sama sekali. mereka bisa menghabiskan waktu mereka dengan teman-teman dan ha yang tidak penting. Sedangkan aku tidak. Sangat berbeda. Aku sampai mencap diriku sebagai manusia alien yang terdampar disebuah tempat aneh yang sangat tidak cocok dengan iklimku.
Lepas dari satu semester di kelas tiga, mereka sibuk membicarakan tentang perpisahan sekolah nanti. Kelasku lagi-lagi meributkan dana yang alokasinya banyak yang tidak penting dan rasaku cukup membebankan orang tuaku. Biaya sana sini harus dikeluarka dari dompet orang tuaku yang sederhana saja. Aku sedih. Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Aku mau berbicara dengan mereka bahwa mereka terlalu menginjak-nginjak hak teman-teman yang lain. Tapi aku tidak bisa. Bersalah sekali diriku saat itu hanya menjadi budak mereka.
Aku berdoa agar aku tetap tabah dengan perlakuan mereka yang semakin menjadi-jadi. Aku sabar hingga penghujung kelas tiga. Aku dihadapkan pada ujian terberatku diancam guru olah ragaku untuk memberi tahu jawaban ujian nasionalku pada anaknya. Kalau aku menolak nilai olah ragaku terancam jelek. Sedangkan kalau aku menerima, itu tidak sesuai dengan hati nuraniku. Aku harus berbuat apa?
Akhirnya aku memilih untuk tidak menerima tawaran guru olah ragaku. Dan aku telah memutuskan keputusan yang benar. Catatan akhir yang sempat ku ukir di SMP N 1 Padang itu adalah melaporkan seorang guru ke kepala sekolah bahwa beliau bertindak curang dan memaksa siswa untuk bertindak curang.
Aku bahagia sekali bisa lepas dari kelas yang mengerikan itu. Semoga aku tidak menjumpai hal yang seperti itu lagi. Semoga...

0 Komentar: