Cute Bow Tie Hearts Blinking Blue and Pink Pointer

Sabtu, 07 Mei 2011

Mencoba Menyadarkanmu, Lisa Vebriani . .

Kenyataan nya emang begitu. Seorang temanku yang sudah ku anggap sahabat kini tak lagi menganggapku.


Namaku Fanny. Aku adalah seorang mahasiswi UNP jurusan Pendidikan Fisika Reguler 2010. Sekarang tengah semester dua. Udah banyak hal yang dapat aku pelajari di kampus tercintaku. Mulai dari persahabatanku dengan anak anak luar kota sampai rumus rumus tersulit yang pernah aku temui.

Kejadian aneh, seru, kocak, pengalaman yang tidak terlupakan, mempunyai sahabat , adalah hal terindah yang kuanggap menjadi koleksi cerita yang ku punya.

Sebut saja Lisa. Dia adalah sahabat yang ku kenal pertama kali di UNP. Anaknya ramah dan mudah bergaul. Hingga kini masih ku anggap sahabat.

Awal ku mengenalnya, aku merasa dia cocok untuk dijadikan teman curhat. Umur kami tak terpaut jauh. Hanya genap 1 tahun, ku lebih muda :). Apapun masalah yang pantas ku ceritakan, kan ku bagikan ke dia, juga sebagai pelengkap cerita obrolan kami.

Hingga dia menemukan seorang pria yang menjadi pujaan hatinya. Aku sepertinya menjadi orang kesekian di list persahabatannya. Dia menjadi sangat sibuk (kelihatannya) dengan urusan diluar sana. Sampai sampai aku terlupakan.

Ditambah lagi, ayahnya yang sakit parah. Dia jarang ke kampus, menjadi pendiam, dan sepertinya hilang kepribadian. Aku sering melihatnya melamun, kadang tertawa sendiri, menangis, terakhir aku melihat dia dalam kondisi yang sangat kacau.

Aku prihatin, tapi bagaimana caranya aku mengungkapkannya?

Tidak ada komunikasi terjalin diantara kami sejak dia benar benar tidak datang ke kampus lagi. Hanya di satu waktu aku mengomentari statusnya dan dia mengirimi aku pesan di facebook. Didalam pesan itu, dia menceritakan suasana hatinya yang sedang bersedih, sangat dan teramat sedih pastinya. Aku pun sedih dengan kenyataan yang dia ceritakan.

Dia mempunyai teman yang tidak menganggap dia. Dia mempunyai sahabat yang memusuhi dia. Dia mempunyai abang yang tidak peduli dengan kuliahnya. Dia mempunyai orang tua yang susah hidupnya.

Astagfirullah, begitu beratkah hidupnya hingga dia menganggap semua yang ada disekitarnya menjadi musuh baginya?

Aku terkejut membaca pesannya yang sepertinya, ah mungkin memang benar, tertuju padaku. Tapi kenyataan yang jujur kan kusampaikan padanya melalui posting ini.

Teman teman banyak menanyakan kabarmu kepadaku. Aku tidak tahu mau jawab apa. Mereka sepertinya mencoba untuk peduli dengan menanyakan kabar. Ku perbaiki presepsinya, begini. Tidak semua teman yang peduli akan menunjukkan kepeduliaannya pada mu, Lisa. Teman teman kita peduli. Peduli pada kondisi dan kabarmu. Memang kami belum bisa membantumu dalam hal finansial. Itu karena keterbatasan pada kami juga. Kami minta maaf soal itu. Selanjutnya, kami ingin kamu tahu, kami bukan menjadi musuh buatmu. Kita adalah teman. Teman satu kelas. Terikan pada Pendidikan Fisika Reguler 2010. Seandainya kamu membuka diri, kami pasti menerimamu dengan tangan terbuka. Bukan berarti sebelumnya kami belum menerimamu. Tapi disini aku tekankan, keterbukaan kita untuk keterbukaan mu.

Masalahmu apa?

Biaya Kuliah?

Beasiswa banyak, Sa. Kalau mau, kita carikan sama sama beasiswa untukmu. Kamu tidak harus putus kuliah, kan? Kamu pasti punya keinginan besar untuk menjadi orang sukses. Aku yakin, kamu pasti ingin. Rencana besarmu yang pernah kamu sampaikan padaku, aku masih ingat Sa. Aku senang kamu bisa mempercayakannya padaku untuk dijadikan saksi hidupmu. Kamu dan Rendy akan menjadi pasangan sukses. Kamu menjadi pegawai negeri, dosen mungkin. Dan Rendy menjadi Pengusaha Sukses. Aku aminkan Sa. Allah menjadi saksi malam ini aku mengulangnya kembali untukmu.

Tapi, dimana sekarang dirimu Sa?
Kamu menghilang begitu saja. Kamu tidak pernah menyampaikan kabar. Apa kamu sudah kehilangan mimpi? Apa kamu sudah putus asa? Apa yang kamu pikirkan disana, Sa?

Apa aku kurang baik menjadi teman? Apa ada teman kita yang sudah memakimu? Apa ada perbuatan kita yang membuatmu begini?

Jujur Sa. Aku peduli. Aku peduli dengan teman temanku. Termasuk kamu. Aku sudah tanya tanya ke rahmat, dea, evin dan ke semua teman kita yang dekat denganmu. Tapi jawaban mereka sama. Tidak tahu. Aku bingung Sa. Kemana harus ku temui kamu. Sementara aku tidak tahu alamatmu. Ke rumah sakit tempat ayahmu dirawat Sa? Beri aku kabar yang baik Sa. Kabar seorang Sahabat ke Sahabatnya.

3 Komentar:

fanny mengatakan...

Bacalah, Lisa.. Kamu tidak tahu betapa banyaknya teman yang masih peduli sama kamu..

Anonim mengatakan...

hmmm...kasih kabar donk sa..biar temen2 g salah persepsi..kita masi peduli kok sm kamu sa..

fanny mengatakan...

yayayaya.. betul..