Cute Bow Tie Hearts Blinking Blue and Pink Pointer

Minggu, 06 Januari 2013

Ratap Ibu


Hai I come back again
Sekian lama hilang dari peredaran. Datang-datang membawa puisi zaman ketumbar *apa coba?*

Aku habis bersihin perpustakaan miniku dan ketemu lah ini, taaraaaa *pegang buka yang kertasnya udah menguning*, sebuah buku bersejarah, tua, dan lapuk. Gak tau deh judul bukunya apa soalnya udah sobek , *bau lagi*. Jadi, aku simpulkan saja, ini buka merupakan kumpulan puisi-puisi zaman dahulu. Yaa penulisnya lahir di tahun 1910-an J

Dan kali ini, aku ingin sekali masyarakat awam khususnya remaja, untuk membaca beberapa diantaranya. Bahasa yang digunakan lugas dan indah lagi berseni. Masih belum mengikuti EYD lho *iya lah mana ada EYD zaman itu* Haha. Oke langsung aja.

Penulis
Nama samaran  : Selasih atau Seleguri
Nama asli         : Sariamin
Riwayat           : Lahir di Talu (Sumatera Barat) bulan Juli 1909.

Ratap Ibu

Anakku tuan remadja putri,
Buah hati tjahaja mata,
Hari raja sebesar ini
Mengapa tuan tak bangun djua.

Bangun tuan, bangun nak kandung,
Bangun nak sajang, muda rupawan;
Sampai hati anakku tuan,
Membiarkan bunda duduk berkabung.

Lihatlah nasi telah terhidang,
Pakailah kain berlipat-lipat,
Tuan penanti djamu jang datang,
Akan pendjelang kaum kerabat.

Bunji tabuh menggegar bumi,
Bunji petasan gegap gempita,
Penuh sesak didjalan raja,
Segala umat bersuka hati.

Parau suara kering rangkungan,
Memanggil tuan emas djuita;
Mengapa tidak tuan dengarkan,
Suka melihat ibu berduka.

Tersirap darah gemetar tulang,
Melihat gadis duduk bersenda;
Wadjah tuan sedikit tak hilang,
Serasa anakku duduk berserta.

Aduhai gadis anakku sajang,
Masi teringat, terbajang-bajang;
Dihari raja tahun dahulu,
Tuan duduk dihadapan ibu.

Bunda selalu dengar-dengaran,
Sebagai mendengar suara tuan;
Perangai mendjadi bajangan mata,
Peninggalan seakan ratjun jang bisa.

Anakku, tak tertahan tak terderita,
Tersekang nasi dalam rangkungan;
Terbang semangat, letih anggota,
Bila bunda teringat tuan.

Kerimba mana bunda berdjalan,
Lautan manakah bunda arung,
Agar bertemu anakku tuan,
Supaja terhibur hati jang murung.

Anakku, kekasih ibu,
Buah ati djundjungan ulu,
Lengang rasanja kampung negara,
Sunji senjap dihari raja.

Bunda sebagai hidup sendiri
Selama tuan tak ada lagi.

Tidak berguna sawah dan bendar,
Emas intan tidak berharga;
Rumah besar rasa terbakar,
Untuk siapa kekuatan bunda.

Aduh kekasih, aduh nak sajang,
Dimana tuan terbaring seorang;
Bawalah ibu sama berdjalan.
Mengapa bunda tuan tinggalkan.

0 Komentar: