Cute Bow Tie Hearts Blinking Blue and Pink Pointer

Sabtu, 09 April 2011

Rahasia dan Sejarah Hajar Aswad

Rahasia dan sejarah hajar Aswad (1)

Hajar Aswad adalah “batu hitam ” yang terletak di sudut sebelah Tenggara Ka ’bah, yaitu sudut darimana Tawaf dimulai.
Hajar Aswad merupakan jenis
batu ‘RUBY ’ yang diturunkan Allah dari surga melalui
malaikat Jibril.

Hajar Aswad terdiri dari
delapan keping yang
terkumpul dan diikat dengan
lingkaran perak. Batu hitam
itu sudah licin karena terus
menerus di kecup, dicium dan diusap-usap oleh jutaan
bahkan milyaran manusia
sejak Nabi Adam, yaitu
jamaah yang datang ke
Baitullah, baik untuk haji
maupun untuk tujuan Umrah. Harap dicatat bahwa panggilan
Haji telah berlangsung sejak
lama yaitu sejak Nabi Adam
AS. Bahkan masyarakat
Jahilliah yang musyrik dan
menyembah berhala pun masih secara setia melayani
jemaah haji yang datang tiap
tahun dari berbagai belahan
dunia.

Nenek moyang Rasulullah,
termasuk kakeknya Abdul
Muthalib adalah para ahli waris
dan pengurus Ka ’bah. Atau secara spesifik adalah
penanggung jawab air
zamzam yang selalu menjadi
primadona dan incaran para
jemaah haji dan para
penziarah. Hadist Sahih riwayat Tarmizi dan Abdullah
bin Amir bin Ash mengatakan
bahwa Rasul SAW bersabda :

Satu riwayat Sahih lainnya
menyatakan:
“ Rukun (HajarAswad) dan makam (Batu/Makam
Ibrahim) berasal dari batu-batu
ruby surga yang kalau tidak
karena sentuhan dosa-dosa
manusia akan dapat menyinari
antara timur dan barat. Setiap orang sakit yang
memegangnya akan sembuh
dari sakitnya ”

Hadist Sahih riwayat Imam
Bathaqie dan Ibnu ‘Abas RA, bahwa Rasul SAW bersabda:
“Allah akan membangkitkan Al-Hajar (Hajar Aswad) pada
hari kiamat. Ia dapat melihat
dan dapat berkata. Ia akan
menjadi saksi terhadap orang
yang pernah memegangnya
dengan ikhlas dan benar ”.

Hadis Siti Aisyah RA
mengatakan bahwa Rasul
SAW bersabda:
“Nikmatilah (peganglah) Hajar Aswad ini sebelum diangkat
(dari bumi). Ia berasal dari
surga dan setiap sesuatu yang
keluar dari surga akan kembali
ke surga sebelum kiamat ”.

Berdasarkan bunyi Hadist
itulah antara lain maka setiap
jamaah haji baik yang
mengerti maupun tidak
mengerti akan senantiasa
menjadikan Hajar Aswad sebagai ‘target ’ berburu …. saya harus menciumnya.
Mencium Hajar Aswad!!!.
Tapi apa bisa? Dua juta jemaah,
datang dimusim haji secara
bersamaan dan antri untuk
keperluan dan target yang sama. Begitu padatnya, maka
anda harus rela dan ikhlas
untuk hanya bisa memberii
‘kecupan ’ jarak jauh sembari melafaskan basmalah dan
takbir: Bismillah Wallahu
Akbar.

Hadis tersebut mengatakan
bahwa disunatkan membaca
do’a ketika hendak istilam (mengusap) atau melambainya
pada permulaan thawaf atau
pada setiap putaran, sebagai
mana, diriwayatkan oleh Ibnu
Umar RA. Artinya:
“Bahwa Nabi Muhammad SAW datang ke Ka ’bah lalu diusapnya Hajar Aswad sambil
membaca Bismillah Wallahu
Akbar ”.

Lanjutannya dikisahkan
bahwa batu hitam tersebut
pernah terkubur pasir selama
beberapa waktu.

RIWAYATNYA
Dalam riwayat lanjutannya
bahwa batu hitam tersebut
pernah terkubur pasir selama
beberapa lama dan secara ajaib
ditemukan kembali oleh Nabi Ismail AS ketika ia berusaha
mendapatkan batu tambahan
untuk menutupi dinding
Ka ’bah yang masih sedikit kurang. Batu yang ditemukan
inilah rupanya yang sedang
dicari oleh Nabi Ibrahim AS,
yang serta merta sangat
gembira dan tak henti-
hantinya menciumi batu tersebut. Bahkan, ketika sudah
tiba dekat ka ’bah, batu itu tak segera diletakan di tempatnya.
Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS
menggotong batu itu sambil
memutari Ka ’bah tujuh putaran.

DIANGKUT DENGAN SORBAN
MUHAMMAD
Diantara peristiwa penting
yang berkenaan dengan batu
ini adalah yang terjadi pada
tahun 16 sebelum Hijrah (606 M) yaitu ketika suku Quraisy
melakukan pemugaran Ka ’bah. Pada saat itu hampir saja
terjadi pertumpahan darah
yang hebat karena sudah lima
hari lima malam mereka dalam
situasi gawat, karena keempat
kabilah dalam suku Quraisy itu terus bersitegang ngotot pada
pendapat dan kehendak
masing-masing siapa yang
mengangkat dan meletakkan
kembali batu ini ketempat
semula karena pemugaran Ka ’bah sudah selesai.

Akhirnya muncul usul dari
Abu Umayyah bin Mughirah
Al-Mukhzumi yang
mengatakan
”Alangkah baiknya kalau keputusan ini kita serahkan
kepada orang yang pertama
kali masuk masjid pada hari
ini.”

Pendapat sesepuh Quraisy Abu
Umayyah ini disepakati. Dan
ternyata orang pertama
masuk pada hari itu adalah
Muhammad bin Abdullah yang
waktu itu masih berusia 35 tahun. Menjadi rahasia umum
pada masa itu bahwa akhlak
dan budi pekerti Muhammad
telah terkenal jujur dan bersih
sehingga dijuluki Al-Amin
(orang yang terpercaya).

Muhammad muda yang organ
tubuhnya yaitu HATI-nya
pernah dibersihkan lewat
operasi oleh Malaikat, memang
sudah dikenal luas tidak
pernah bohong dan tidak pernah ingkar janji. Lalu apa
jawaban dan tindakan
Muhammad terhadap usul itu?

Muhammad menuju tempat
pernyimpanan Hajar Aswad
itu lalu membentangkan
sorbannya dan meletakkan
batu mulia itu ditengah-tengah
sorban kemudian meminta satu orang wakil dari masing-
masing kabilah yang sedang
bertengkar untuk memegang
sudut sorban itu dan bersama-
sama menggotongnya
kesudut dimana batu itu hendak diletakkan. Supaya
adil, Muhammad pulalah yang
memasang batu itu ketempat
semula.

RAHASIA HAJAR AL-ASWAD

Kita semua tahu bahwa Hajar
Aswad hanyalah batu yang
tidak memberikan mudorat
atau manfaat, begitu juga
dengan Ka ’bah, ia hanyalah bangunan yang terbuat dari
batu. Akan tetapi apa yang
kita lakukan dalam prosesi
ibadah haji tersebut adalah
sekedar mengikuti ajaran dan
sunnah Nabi SAW. Jadi apa yang kita lakukan bukanlah
menyembah Batu, dan tidak
juga menyembah Ka ’bah.

Umar bin Khatab berkata
“Aku tahu bahwa kau hanyalah batu, kalaulah bukan
karena aku melihat kekasihku
Nabi SAW menciummu dan
menyentuhmu, maka aku
tidak akan menyentuhmu
atau menciummu ”

Allah memerintahkan kita
untuk Thawaf mengelilingi
Ka ’bah dan Dia pula yang telah memerintahkan untuk
mencium Hajar Aswad.
Rasulullah juga melakukan itu
semua, dan tentu saja apa
yang dilakukan oleh beliau
pastilah berasal dari Allah, sebagaimana yang terdapat
dalam firmanNya : “Dan tiadalah yang diucapkannya
itu menurut kemauan hawa
nafsunya. Ucapannya itu tiada
lain hanyalah wahyu yang
diwahyukan (QS. An-Najm :
53 ) “.

Hajar Aswad berasal dari
surga. Batu ini pula yang
menjadi fondasi pertama
bangunan Ka ’bah, dan ia menghitam akibat banyaknya
dosa manusia yang melekat
disana pada saat mereka
melakukan pertaubatan.
Tidakkah orang yang beriman
merasa malu, jika hati mereka menghitam akibat dosa yang
telah dilakukan. Rasulullah
bersabda “Ketika Hajar Aswad turun, keadaannya masih
putih, lebih putih dari susu, lalu
ia menjadi hitam akibat dosa-
dosa anak Adam (HR Tirmidzi).

0 Komentar: