Cute Bow Tie Hearts Blinking Blue and Pink Pointer

Rabu, 02 Maret 2011

Wanita Cantik, Siapa Dia?

Muslimah yang cerdas tidak
dapat diukur dengan nilai-nilai
pelajaran yang diperolah di
sekolah atau IPK di atas rata-
rata. Namun, kecerdasannya
ini nampak, ketika seorang Muslimah dapat menggunakan
akalnya dalam ketaatannya
kepada Allah dan Rasul-Nya.
Sehingga ia akan tampil
ditengah-tengah masyarakat
dengan kepribadian yang khas, yang berbeda dengan
perempuan-perempuan yang
kebanyakan hanya mengikuti
hawa nafsunya, dibalut
dengan kata “Modern”, atau mengikuti gaya hidup Barat
yang sangat jauh dari nilai-nilai
Islam.

Muslimah yang cerdas akan
senantiasa mencari jati dirinya
yang sebenarnya. Ia tidak
akan mudah terpengaruh
dengan pembahasan yang
dangkal. Ia tidak disibukkan dengan membahas tentang
penampilan yang tepat, tata
rambut yang benar, busana
yang lagi ngetrend, atau
membuang-buang waktu dan
energinya untuk berupaya memenuhi harapan-harapan
yang tidak wajar sebagaimana
yang dipandang oleh
masyarakat Barat sebagai
“Wanita Cantik ”. Seorang muslimah akan berupaya
menggunakan akalnya agar
segala aktivitasnya bernilai
ibadah untuk menggumpulkan
pahala sebagai modal di
kehidupannya di akhirat kelak.

Kendati pun, tidak dapat
dipungkiri, bahwa kuatnya
arus mengenai menjadi wanita
cantik, senantiasa diekspos
dimedia-media, sehingga
menjadi wanita cantik seakan- akan menjadi idaman untuk
semua perempuan termasuk
kaum Muslimah. Kenyataan
menunjukkan bahwa
pandangan yang dominan di
tengah-tengah masyarakat dunia saat ini tentang apa yang
dimaksud dengan “Wanita Cantik ” adalah pandangan yang bersumber dari
masyarakat kapitalis Barat.
Yang dimaksud dengan
“Wanita Cantik ” menurut mereka adalah perempuan
yang tinggi, ramping, dan
berkulit putih. Selain itu,
pandangan umum masyarakat
dunia tentang kepribadian
perempuan yang sempurna lebih banyak diukur dari sisi
penampilan dan cara berbusana
ala perempuan Barat.

Konsep mengenai “Wanita Cantik ” menjadi hal yang sangat penting bagi kalangan
perempuan pada umumnya
untuk saat ini, sehingga untuk
memiliki keperibadian Islam
tidak lagi dijadikan hal yang
utama dalam pembentukan jati dirinya. Padahal dalam
tuntunan Islam, mengenai fisik
tidaklah menentukan derajat
seseorang. Sesuai dalam hadits
ini:

Dalam khutbah terakhirnya,
Nabi mengulang pesan itu :
“Wahai, sekalian manusia, ingatlah bahwa Tuhan kamu
satu dan bapak kamu satu.
Tidak ada kelebihan bagi orang
Arab atas orang ‘Ajam (non- Arab) dan orang ‘Ajam atas orang Arab. Juga tidak ada
kelebihan bagi orang berkulit
merah atas orang hitam dan
bagi orang hitam atas orang
merah, kecuali karena
takwa ” (HR. Ahmad dari Abu Nadlrah)

Itulah sebabnya, Bilal budak
hitam lebih layak masuk sorga
daripada Abu Jahal dan Abu
Lahab yang gagah tinggi besar.
Demikian pula Amr Ibnul
Jamuh yang kakinya pincang, atau Abdullah bin Mas ’ud yang kakinya kecil. Keduanya
bagian dari sahabat terbaik
Nabi.

Berbicara tentang soal pesona,
suatu ketika saat Nabi sedang
duduk dengan salah seorang
sahabatnya, ada seorang
pemuda yang gagah melintas
di depan mereka. Nabi bertanya kepada sahabatnya,
“Bagaiamana pendapatmu tentang orang itu? “O Rasulullah! Dia termasuk
golongan yang mulia. Orang
seperti dia kalau meminang
siapa saja pasti diterima, kalau
minta tolong pasti ditolong, ” jawab sahabat. Nabi diam saja.
Tak lama kemudian, seorang
hitam dan tidak gagah
melintas di depan mereka.
“Bagaimana kalau orang ini ?” Tanya Nabi. Sahabat cepat
menjawab, “Wah, kalau ini sudah kelihatan dari golongan
miskin. Orang seperti dia kalau
meminang tidak akan ada
yang mau menerimanya. Kalau
minta bantuan, sulit akan
mendapat bantuan. Kalau berbicara tidak ada orang yang
mau mendengar.”

Mendengar komentar
sahabatnya tadi, Nabi berkata,
“Orang kedua ini lebih baik dari seisi bumi, dibandingkan
dengan orang yang pertama
tadi. ” Artinya, jangan tertipu oleh penampilan fisik. Seperti
kata pepatah: Beauty is not in
the face, beauty is a light in the
heart (kecantikan bukan pada
wajah, melainkan cahaya dari
dalam hati)

Rasulullah Saw. menegaskan,
“Allah tidak melihat kepada bentukmu dan penampilanmu,
tapi Allah melihat kepada amal
dan hatimu ” (HR. Muslim)

Sudah sangat jelas bahwa
aktivitas dengan hanya
menyibukkan diri dengan
penampilan seperti yang di
iklan-iklan adalah aktivitas
yang sia-sia, karena Allah hanya menilai hamba-Nya
dengan ketaatan kepada-Nya.
Demikian pula, mengenai
popularitas, jabatan, maupun
harta, tidak juga sebagai
penentu tingkat derajat seseorang dihadapan Allah,
akan tetapi tetap dari amal
ibadah yang dilakukannya.

Dari Abu Umamah, dari Nabi
Saw. beliau bersabda:
“Sesungguhnya wali yang paling menarikku adalah
seorang mukmin yang ringan
hadznya yang mempunyai
bagian yang besar dalam
shalatnya. Ia beribadah kepada
Rabnya dengan ikhlas dan sesuai sunah. Ia taat kepada
Allah pada saat menyendiri,
tidak ada yang melihatnya. Ia
menyembunyikan
(ibadahnya) terhadap manusia.
Ia tidak pernah ditunjuk- tunjuk (dimarahi) oleh jari
tangan orang lain. Rizkinya
tidak terlalu banyak, tapi ia
sabar atas rizkinya. Kemudian
beliau mengibaskan tangannya
dan bersabda, “Kematian orang itu cepat sekali, sedikit
orang yang menangisinya dan
sedikit peninggalanya. ” (HR. at-Tarmidzi. Ia
menghasankkannya)

Mungkin kita pernah melihat
ada seseorang yang tanpak
biasa saja, namun kita tidak
mengetahui sebarapa besarnya
dia senantiasa beribadah
kepada Allah, kebanyakan waktunya habis untuk
beribadah seperti shalat,
mengaji, dzikir, dakwa,
sedekah, mengkaji Islam dan
amalan-amalan lainnya. Sekali
lagi, kita tidak boleh tertipu hanya dengan penampilan
fisik, apalagi jika kita bagian
dari Muslimah yang hanya
ingin mendapat perhatian dari
orang-orang sehingga cara
yang termudah dengan memperindah diri dengan
hanya sebatas penampilan. Hal
ini tentu bertentangan dengan
apa yang telah Rasulullah
ajarkan kepada kita karena
Rasulullah pun, menilai ummatnya dengan kualitas
keimanan dan
pengorbanannya dijalan Allah
Swt. Hadits Riwayat Muslim
dari Anas bin Malik:
Sesungguhnya Nabi Saw. tidak pernah menemui wanita selain
istri-istrinya kecuali kepada
Ummu Sulaim. Nabi Saw. suka
menemuinya. Kemudian ada
yang berkomentar tentang hal
itu. Maka Nabi Saw. bersabda, “Aku menyayanginya karena saudaranya telah terbunuh
pada suatu peperangan
bersamaku. ”

Pada saat pemikiran umat
Islam dikepung atau dicekoki
dengan pemikirat Barat, maka
mengakibatkan umat
senantiasa menilai segala
sesuatu dari sudut pandang Barat termasuk dalam
pembentukan diri sebagai
seorang Muslimah. Sehingga
selayaknya umat Islam
khususnya Muslimah kembali
menjadikan Al-Quran dan Hadits sebagai patokan dalam
pembentukan dirinya, yang
tidak terjerumus oleh tipu
muslihat dari syaitan yang
berwujud manusia dengan
memberikan pandangan- pandangan yang keliru dalam
kehidupannya di dunia.

0 Komentar: